Hampir setiap periode musim tanam, permasalahan kelangkaan pupuk anorganik selalu terjadi.
Untuk menutup kekurangan pasokan pada musim tanam tahun ini, Pemprov Jateng mengajukan permintaan penambahan alokasi pupuk kepada pemerintah pusat sebesar 75.000 ton, namun yang dikabulkan baru 22.560 ton. Mengapa petani harus tergantung dari pupuk anorganik? Mengapa tidak melirik pemanfaatan pupuk organik?
PEMERINTAH seolah tidak berdaya menghadapi permasalahan ini. Para petani pun dihadapkan pada permasalahan krusial. Di satu sisi, mereka membutuhkan pupuk untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Tetapi, di sisi lain, mahalnya harga pupuk anorganik menyebabkan biaya produksi makin tinggi.
Penggunaan pupuk anorganik dari sisi lingkungan sebenarnya mengundang masalah. Ia bisa menyebabkan rusaknya lahan pertanian, karena terganggunya ekosistem berupa matinya mikroorganisme yang berguna bagi kesuburan tanah secara alami. Tanah menjadi makin kurus dan miskin hara, sementara residu kimia anorganik sulit terurai.
Sebenarnya penggunaan pupuk organik bisa menjadi solusi alternatif dalam pengoptimalan hasil pertanian berbasis lingkungan. Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dan diusahakan dari bahan-bahan yang berasal dari tanaman, hewan, serta sisa limbah pertanian yang diolah menjadi serbuk atau cairan untuk memupuk tanaman. Pupuk organik mampu memperbaiki keadaan tanah menjadi gembur dan subur kembali.
Karena berbahan alami, pupuk organik mampu menyehatkan tanah dan tanaman. Keluhan petani tentang tanahnya yang makin rusak, keras, dengan hasil tani yang makin sedikit dan berbiaya mahal, dapat diminimalkan melalui penggunaan pupuk organik. Sebab bahan bakunya ada di sekitar kita, tanpa mengeluarkan banyak biaya.
Selain itu, penggunaan bahan alami dapat meningkatkan kualitas hidup tanah dan tanaman, karena yang terkandung di dalam pupuk organik merupakan bahan yang mudah terurai. Efek dominonya bagi kesehatan manusia, bahan makanan dari olahan tanaman yang menggunakan pupuk organik akan menyehatkan karena tidak mengandung bahan kimia.
Bahan Baku
Di sekitar kita banyak bahan baku yang bisa dijadikan pupuk organik. Misalnya kotoran hewan (sapi, kambing, ayaml), bioaktifatur atau starter dan bahan pengisi berupa sampah organik dan atau arang sekam. Untuk membuat pupuk organik, kita harus melakukan proses pemilahan sampah menjadi dua bagian.
Pertama, sampah organik yang terdiri atas sisa makanan, daun, kertas, sisa bahan sayur, dan buah. Kedua, sampah anorganik yang terdiri atas plastik, kaca, kaleng bekas, dan kulit sintesis. Sampah organik inilah yang bisa diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik bisa dijual ke pabrik daur ulang.
Proses pembuatan pupuk organik sangat mudah. Sampah organik dicacah dengan ukuran 2-3 cm.
Hal ini dimaksudkan agar ukuran seragam, dan memperluas permukaan. Dengan demikian, diharapkan mikrooranisme mampu mengurai sampah tersebut lebih cepat.
Sampah yang sudah dicacah dicampur dengan arang sekam, bekatul, pupuk kandang, mikroorganisme, dan ditambah air secukupnya, kurang lebih 30 persen. Campuran tersebut diaduk, lalu difermentasi atau diperan selama tujuh hari.
Selama tiga hari pertama, campuran dibalik dan diperan lagi. Setelah tujuh hari, campuran dibongkar dan diangin-anginkan.Setelah cukup dianginkan, campuran diayak dan hasil ayakan berupa pupuk organik ini sudah dapat diaplikasikan di lahan pertanian.
Masyarakat kini makin sadar untuk mengkonsumsi bahan pangan yang alami, terbukti dengan makin tingginya permintaan konsumsen terhadap produk-produk pertanian organik (beras, buah, dan sebagainya). Hal ini menyebabkan penggunaan pupuk organik pun makin meningkat, sehingga bisa menjadi peluang usaha tersendiri bagi petani.
Dengan penggunaan pupuk organik, petani dapat memeroleh setidaknya dua keuntungan ekonomi. Pertama, bisa menghemat biaya produksi pertanian, karena pupuk yang digunakan adalah buatan sendiri dan dari bahan yang mudah didapat. Kedua, dapat menjual pupuk organik sebagai penghasilan tambahan.
Ya, sudah saatnya stakeholders pertanian di Indonesia mendorong sistem pertanian yang ramah lingkungan. (32)
— Arif Fajar Hidayat SE,
Fasilitator kelurahan PNPM-Mandiri Perkotaan di Kabupaten Kendal.
Pegiat Komunitas Wedangjae
–dimuat di harian Suara Merdeka (28/11/2008)–